Pahlawan selalu diperingati tiap tanggal 10 November. Mengapa? Bukankah kalian tahu kawan bahwa di hari itu tepat perobekan bendera Belanda oleh pemuda Indonesia kala itu yang geram dan murka akan penkhianatan yang keji dari penjajah. Bendera merah-putih-biru itu dirobek warna birunya diatas hotel Yamato hingga jadilah bendera merah-putih.
Maka dari itu, kita akan memperingati, mengenang masa lalu, mengingat sejarah, melupakan sejenak rumus-rumus hebat nan luar biasa itu dengan menyingkap sejarah.
Kita berwisata sejarah kali ini, mengenang perjuangan para pahlawan dalam memperoleh kata "KEMERDEKAAN" dengan mengunjungi Bukit Menumbing dimana ia menjadi saksi bisu dan bagian kecil dari sejarah Indonesia yang kini perlahan-lahan mulai tenggelam ditelan zaman modernisasi.
Bangsa yang hebat adalah bangsa yang menghargai sejarah. Maka dari itu kawan, kita mendaki bukit yang menjadi saksi mata akan langkah sang proklamator Indonesia, menelusuri hutan dan bertemu satwa liar hingga akhirnya kita sampai di puncak bukit.
Alangkah sungguh luar biasa penciptaan-Nya di muka bumi ini! Tak kan satupun manusia yang dapat menandingi. Syukur. Hanya itu yang mampu terucap. Nikmati! Nikmati alam ini! Nikmati alam ini tanpa merusak kawan. Itulah manusia sejati. Kita tak boleh mengambil, memetik, membawa bahkan mencuri apapun di alam ini karena sejatinya mereka ada dan hadir bukan untuk dirusak dan dihabisi namun untuk disayangi.
Pepohonan, dedaunan, gedung-gedung megah nan indah, bangunan apapun itu tak boleh kita rusak kawan. jikalau engkau ingin marah dan protes pun, maka lakukanlah dengan elegan dan dewasa tanpa merusak.
Letih, capek, lemah, lesu, lunglai, kaki pegal, entah sudah berapa butir keringat yang telah mengalir dari kulit ari. Seiring perjalanan, tanpa terasa himpunan ini telah berumur 3 tahun, ia sekarang telah mampu bergerak leluasa karena seiring perkembangannya telah banyak dikenal orang, telah banyak memberi dan melakukan.
Pendakian selama 2 jam akhirnya terbalaskan dengan pemandangan indah diatas puncak. Kita tiba di museum, di kamar tidur Bung Karno, di depan mobil plat BN 1 doeloe.
Menikmati segala hal disini. Benar-benar kembali ke sejarah. Semangat membara sangat terasa dalam ruangan. Disinilah Soekarno diasingkan. Kita belajar bagaimana ia bersabar, ia tetap kuat, ia tak gentar, ia terus berjuang, tak ada kata mengeluh, tak ada tangisan dan rengekan untuk istirahat sejenak, ia terus berjalan bahkan berlari, ia berkorban banyak demi Indonesia Merdeka. Terima kasih Bapak. Jasamu kan kami kenang selalu, walau kami sering berkelahi, walau kami suka jalan sana-sini tanpa memikirkan nasib negeri, walau kami hanya bisa mengeluh akan kecewanya pada kondisi ibu pertiwi, kami berjanji akan membangun Indonesia lebih baik lagi.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar